Perkuat Mutu dan Daya Saing Rempah, Petani Halmahera Selatan Ikuti Bimtek Pala dan Cengkeh
Halmahera Selatan – Upaya meningkatkan mutu dan nilai ekonomi komoditas pala dan cengkeh terus dilakukan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Nilai Pala dan Cengkeh di Halmahera Selatan, Maluku Utara, pada 29–30 Oktober 2026. Kegiatan ini membekali petani dan kelompok wanita tani (KWT) dengan pengetahuan mengenai potensi komoditas daerah, penanganan pascapanen, pengujian keamanan produk, hingga pengembangan usaha olahan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Halmahera Selatan, Suyatmi Aljokja, menyampaikan bahwa luas perkebunan pala di wilayahnya mencapai sekitar 13.091 hektare berdasarkan data tahun 2024. Potensi tersebut perlu didukung upaya penanganan tanaman rusak dan mati, penyediaan bibit, serta sarana pengairan untuk menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan kekeringan.
Dalam pemaparan materi, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Halmahera Selatan, Ir. Agus Heriawan, SP., S.Hut., IPM., M.Si., ASEAN Eng., mengangkat tema “Potensi Komoditas Unggul Daerah Halmahera Selatan, Rumah Pala Dunia”. Ia menekankan pentingnya mengembalikan kejayaan rempah melalui peningkatan kualitas dan pengembangan produk turunan pala.
Potensi hilirisasi terlihat dari berbagai produk olahan yang dikembangkan KWT dan UMKM, seperti sirup, sari buah, selai, dodol, manisan, hingga minyak atsiri. Berdasarkan data per 31 Desember 2025, terdapat sekitar 30 kelompok pengolah dan IKM turunan pala yang tersebar di 12 desa pada enam kecamatan. Pengembangan usaha tersebut perlu didukung peningkatan mutu, legalitas produk, peralatan pengolahan, dan akses pemasaran.
Pada hari kedua, Novita Ardiarini, S.Pt., M.Sc., dari BRMP Maluku Utara menyampaikan materi penerapan Good Handling Practices (GHP) dalam penanganan pascapanen pala dan cengkeh. Ia menjelaskan pentingnya sortasi, pengeringan, penyimpanan, dan pengemasan yang tepat untuk menjaga kualitas hasil panen. Pengeringan cengkeh, misalnya, perlu dilakukan hingga kadar air mencapai sekitar 12–14 persen.
Novita juga mengingatkan pentingnya mencegah cemaran aflatoksin pada pala yang dapat menghambat penerimaan produk di pasar ekspor. Peserta kemudian mengikuti praktik penggunaan aflatoxin detection kit untuk mengenal pengujian keamanan produk sebelum dipasarkan.
Sementara itu, Saiful H. Yusuf selaku pengepul menjelaskan kriteria mutu pala berdasarkan ukuran, berat, kadar air, dan kondisi fisik biji. Ia juga menyoroti potensi pala dan cengkeh Maluku Utara yang perlu didukung peningkatan kualitas serta perluasan jaringan pemasaran.
Penguatan kapasitas usaha dilanjutkan melalui materi “Panduan Menyusun Proposal Bisnis dan Rencana Usaha” oleh Sudarsono, National Project Manager (NPM) CDCSUI. Peserta didorong menyusun rencana usaha berdasarkan kebutuhan dan potensi pasar, melakukan survei konsumen, serta mengembangkan produk dengan ciri khas masing-masing. Dalam praktiknya, peserta dibagi ke dalam kelompok untuk menyusun profil bisnis, mengidentifikasi pasar, menentukan produk, menghitung kebutuhan peralatan dan Rencana Anggaran Biaya (RAB), serta merancang keberlanjutan usaha.
Melalui rangkaian bimtek ini, petani dan pelaku UMKM diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan keamanan produk, mengembangkan inovasi olahan, serta memperkuat strategi pemasaran. Dengan dukungan pemerintah daerah dan kolaborasi berbagai pihak, pala dan cengkeh Halmahera Selatan diharapkan semakin berdaya saing, memberikan nilai tambah bagi petani, dan membuka peluang usaha yang berkelanjutan.